UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK JERAMI NANGKA (Artocarpus heterophyllus) METODE INFUNDASI TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus
DOI:
https://doi.org/10.36568.v15i1.146Keywords:
antibakteri, jerami nangka, Staphylococcus aureusAbstract
Salah satu isu kesehatan yang banyak terjadi di dunia saat ini adalah terjadinya resistensi antimikroba pada bakteri patogen. WHO di tahun 2017 mengeluarkan pernyataan bahwa Staphylococcus aureus menjadi salah satu bakteri yang dinyatakan resistensi pada satu maupun lebih antibiotik dan menjadi bakteri prioritas yang perlu kajian lebih banyak dalam terapi dan penanganannya. Salah satu tumbuhan yang telah banyak diteliti mengenai kandungan antibakterinya adalah nangka (Artocarpus heterophyllus). Berbagai penelitian yang dilakukan telah membuktikan bahwa tumbuhan nangka memiliki senyawa aktif yang mempunyai senyawa antibakteri seperti tanin, saponin, dan flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan antibakteri ekstrak jerami nangka metode infundasi terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium yang memiliki tujuh kelompok perlakuan yaitu ekstrak jerami nangka dengan variasi konsentrasi 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, penicillin sebagai kontrol positif, dan aquadest steril untuk kontrol negatif. Pengamatan aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) dengan mengukur zona hambat yang dihasilkan. Data hasil penelitian dilakukan analisis dengan menerapkan uji non parametrik Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan zona hambat mulai terbentuk pada ekstrak konsentrasi 40%, 50%, 60%, dan 70% dengan rata-rata diameter 1,75 mm, 3,5 mm, 5,5 mm, dan 3,5 mm di daerah irradikal (zona hambat yang tidak bening sepenuhnya). Hasil analisis dalam penelitian ini menyatakan bahwa ekstrak jerami nangka yang diperoleh dari metode infundasi tidak berpengaruh pada pertumbuhan bakteri S. aureus.








